MAKALAH
INTEGRITAS TAUHID DAN ILMU PENGETAHUAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah :
TAUHID
Dosen Pengampu : Dra. Hj. Siti Munawaroh Thowaf, M. Ag
Disusun oleh :
Muchammad Najih (134211017)
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALI SONGO SEMARANG
2014
I.
PENDAHULUAN
Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan kepada kita Hidayah, Taufiq, dan Inayah-Nya
yang tiada terkira, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah
tauhid yang berjudul “Integritas Tauhid dan Ilmu Pengetahuan” dengan tepat
waktu. Sholawat dan Salam semoga tercurahkan kepangkuan Baginda Nabi Agung
Muhammad SAW yang telah menuntun umatnya dari zaman kegelapan menuju zaman yang
terang benderan ini.
Allah SWT menciptakan manusia dengan sempurna dan
memberikan kedudukan yang tinggi daripada makhluk-Nya yang lain adalah oleh
Allah diberi berupa akal, akal bisa membedakan mana yang baik dan mana buruk
otomatis dengan ilmu pengetahuan. Orang yang memiliki ilmu tidak akan menjadi
buih yang ada dilautan, terbawa arus kesana kemari yang tidak mempunyai suatu
pendirian yang kuat, karena tidak memiliki suatu ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah menentukan seseorang
itu sukses atau tidak, jika kita sukses maka carilah ilmu, baik ilmu agama
maupun ilmu umum. Keduanya tidak boleh dipisahkan karena mereka merupakan kunci
kesuksesan di dunia dan di akhirat.
Orang yang berilmu tanpa didasari dengan
tauhid, maka akan deladrah orang tersebut. Sekarang sudah banyak pemimpin kita,
DPR-DPRD, Menteri dan lain sebagainya. Dia mempunyai ilmu yang mumpuni, tapi
dia tidak dilandasi atau didasari dengan tauhid, maka dia mengkorupsi uang
negara, padahal uang negara untuk mensejahterakan rakyat malah dia korupsi.
Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan
menjelaskan tentang integritas tauhid dan ilmu pengetahuan
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Bagaimana pengertian Integritas Tauhid?
B.
Bagaimana pengertian ilmu pengetahuan dan wajibkah
mencari ilmu itu?
C.
Bagaimana kedudukan orang yang berilmu?
D.
Bagaimana hubungan integritas tauhid dan ilmu
pengetahuan?
III.
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Integritas Tauhid
Dalam perspektif, tauhid
merupakan prinsip utama integrasi ilmu. Ini berarti setidaknya tauhid mendasari
integritas obyek ilmu, sumber ilmu dan metodenya. Konsep tauhid diambil dari
formula konvensional Islam “La Ilaha Illallah” yang artinya “tidak ada
Tuhan melainkan Allah”.
Para teolog dan fuqoha
cenderung mengambil arti harfiah dari kata tersebut yang mengartikan bahwa
“tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah”. Ilah difahami sebagai
Tuhan yang wajib disembah karena manusia adalah hamba-hamba-Nya. Namun sejalan
dengan pendekatan filosofis (dan mistik), disini akan dibahas Tauhid dalam
perspektif filosofis karena dalam perspektif inilah integritas ilmu menemukan
ekspresinya yang paling nyata.
Dalam pandangan filosofis,
keesaan Tuhan (tauhid) bagi mereka berarti bahwa Tuhan haruslah simple
(basith), tidak boleh tersusun dari apapun kecuali Dzat (esensi) Nya sendiri.
Karena itu, Tuhan pada diri-Nya tidak bisa dkatakan mempunyai sifat, kalau
dengan sifat itu diartikan sebagai sesuatu yang dikatakan kepada Dzat-Nya,
karena kalau begitu akan terkesan adanya tarkib (komposisi) pada diri
Tuhan. Ini tentunya juga merupakan inti pandangan kaum rasionalis Muslim, yang
disebut Mu’tazilah, yang merupakan para teolog yang sangat dipengaruhi oleh
ide-ide filosofis. Seiring dengan semangat itu, Ibnu Sina , misalnya, juga
mengatakan bahwa pada diri Tuhan esensi dan eksistensi adalah sama dan satu,
sedangkan pada wujud yang selainnya, esensi dan eksistensi merupakan dua hal
yang berbeda.
Adapun alasan yang dikemukakannya adalah bahwa sementara segala sesuatu selain
Tuhan memiliki genus dan spesies, Tuhan tidak memiliki genus
dan spesies sehingga pada diri-Nya esensi dan eksistensi bersatu.
B. Pengertian Ilmu
Pengetahuan dan Wajibkah Mencari Ilmu itu?
Menurut Islam “ilmu pengetahuan” adalah sebuah kata yang kharismatis. Ia
mengandung segala kemaslahatan umat manusia.bahkan dengan ilmu, mereka menjadi
lebih utama daripada para Malaikat, dan dengan ilmu pula mereka berhak menjadi
khalifah Allah swt.di muka bumi.
Ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mengenal Tuhan Pencipta mengetahui
berbagai macam benda dan kekuatan alam serta mampu menjinakkan dan menggunakan
untuk kesejahteraan umat manusia.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
اطلبواالعلم من المهد الى اللحد
Artinya : “Carilah kalian semua ilmu sejak dari lahir sampai keliang lahad”
Hadits diatas jelas, islam memerintahkan kita untuk tidak putus asa dalam
mencari ilmu walaupun sudah lanjut usia (tua), jadi tidak ada alasan seseorang
untuk berhenti mencari ilmu. Ilmu juga dapat menentukan seseorang sukses atau
tidak dimasa yang akan datang dan di akhirat.
Dalam hadits menyebutkan bahwa mencari ilmu itu hukumnya adalah wajib:
طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلما ت
Artinya : “Mencari Ilmu itu wajib bagi setiap laki-laki muslim dan
perempuan muslim”
Hadits diatas menjelaskan kepada kita bahwa mencari ilmu itu sangatlah
penting bagi seseorang, apalagi kita seorang muslim. Agama Islam telah
menetapkan bahwa mencari ilmu itu hukumnya adalah wajib.
Ilmu agama dan ilmu umum adalah sesuatu yang tidak boleh dipisahkan karena
keduanya adalah kunci mencapai kesuksesan di dunia dan akhirat, Rasulullah SAW
bersabda:
من ارادالدنيا فعليه با لعام, ومن ارادالاخرة
فعليه بالعلم, ومن ارادهما فعليه بالعلم
Artinya : “Barang siapa yang mengharapkan kehidupan di dunia maka harus
dengan ilmu, dan barang siapa yang mengharapkan kehidupan di akhirat maka harus
dengan ilmu, dan barang siapa yang mengharapkan kehidupan keduanya maka harus
dengan ilmu”.
Jadi intinya adalah ilmu menentukan seseorang bisa sukses atau tidak, baik
di dunia dan akhirat. Kalau kita hanya memiliki salah satu saja dari ilmu itu
maka tidak akan seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Karena apabila
kita hanya memiliki ilmu umum, itu belum tentu menjamin kehidupan kita di
akhirat. Begitu juga sebaliknya, apabila kita hanya memiliki ilmu agama saja
tanpa diimbangi dengan ilmu umum maka itu juga tidak akan menjamin kesuksesan
kehidupan kita di dunia.
اقراء با سم ربك الذى خلق (1) خلق الانسا ن من
علق (2) اقراء وربك الاكرم (3) الذى علم با لقلم (4) علم الانسان ما لم يعلم (5)
Artinya : “Bacalah, dengan nama Tuhanmu Dzat Yang Menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha
Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajar manusia sesuatu
yang tidak diketahui. (QS. Al-Alaq: 1-5)”
Surat diatas memberi penjelasan kepada kita, bahwa Allah SWT memerintahkan
kepada kita betapa pentingnya membaca dan menulis. Membaca (mempelajari,
meneliti dan sebagainya) apa saja yang telah Allah ciptakan dan memikirkannya
betapa agungnya ciptaan yang telah Ia ciptakan. Allah menciptakan manusia dari
segumpal darah, ia dimuliakan karena diberi kelebihan yaitu akal (ilmu). Allah
SWT mengajari manusia mampu menggunakan alat tulis. Mengajari di sini maksudnya
memberinya kemampuan menggunakannya. Dengan kemampuan menggunakan alat tulis
itu, manusia bisa menuliskan semuannya sehingga dapat dibaca oleh orang lain
dan generasi berikutnya. Dengan dibaca oleh orang lain, ilmu itu dapat
dikembangkan. Dengan demikian, manusia dapat mengetahui apa yang sebelumnya
belum diketahuinya artinya ilmu itu akan terus berkembang. Demikianlah besarnya
fungsi baca-tulis.
C.
Kedudukan Orang yang Berilmu
Orang yang berilmu kedudukannya (derajatnya)
akan di naikkan oleh Allah SWT beberapa kali ketimbang orang yang tidak
memiliki ilmu. Firman Allah :
يرفع الله الذين امنوامنكم والذين اوتواالعلم
درجا ت. والله بما تعملون خبير (المجا د له :11)
Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Kata “ilmu” dalam Bahasa Arab adalah علم mempunyai arti tersendiri dalam satu hurufnya yaitu:
1. ع = عليين artinya tinggi. Maksudnya adalah orang yang berilmu
itu derajatnya lebih tinggi daripada orang yang tidak memilki ilmu dan akan
dihormat orang yang berilmu itu.
2. ل=
لطيف
artinya lembut. Maksudnya adalah orang yang berilmu tutur katanya lembut dan
perangainya juga. Orang yang tutur kata dan perangainya kasar tidak
mencerminkan orang yang berilmu
3. م=
ملك
artinya menguasai. Maksudnya adalah orang yang berilmu pasti akan disuruh untuk
memimpin dalam apapun, jika yang memimpin orang yang tidak berilmu maka
tunggulah kehancurannya.
Sebaliknya
orang-orang yang tidak memiliki illmu akan mendapatkan kerugian di dunia dan
akhirat. Mereka hanya akan menjadi buih. Terbawa arus kesana kemari dan tidak
pernah dipandang oleh orang lain. Di akhirat pun timbangan amal orang-orang
yang tidak berilmu
akan sangat ringan. Tentu saja timbangan yang ringan sulit menyelamatkan mereka
dari api neraka. Allah berfirman tentang salah satu risiko orang yang tidak
berilmu adalah :
بل اتبع الذين ظلموااهواءهم بغير علم. فمن يهدي من اضل
الله. وما لهم من نصير.
Artinya : “Tetapi orang-orang yang zalim,
mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan
menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalahbagi mereka seorang
penolongpun”.
D. Hubungan
Integritas Tauhid dan Ilmu Pengetahuan
Dalam Islam, perintah yang paling mendasar adalah
menyembah Allah dan mengesakanNya. Larangannya adalah menyekutukan Allah, atau
melakukan tindakan syirik. Tauhid dan syirik adalah dua sisi yang tidak dapat
dipisahkan, meskipun antara yang satu dengan yang lainnya sangat berbeda. Dalam
Al-qur'an, Allah berfirman: "katakanlah: "Dia-lah Allah Yang Maha
Esa; Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak
melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Sebagaimana
dikatakan di atas, sisi kedua adalah cegahan syirik.
Setelah Allah menciptakan manusia dan menyuruh ciptaan-Nya
itu mengesakannya - berarti manusia hanya boleh tunduk padanya dan tidak boleh
tunduk pada sesama ciptaan-Nya. Allah
menjadikannya sebagai khalifah di atas bumi. Dalam posisinya itu manusia diberi
wewenang untuk mengatur dan mengelola alam, karenanya, Allah menundukkan alam
untuk manusia.
.....dan Dia telah menundukkan bahtera supaya kamu dapat
melakukan perjalanan di atasnya dengan perintah-Nya.
.....dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan
bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan Dia telah menundukkan bagimu
malam dan siang.
dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan
untukmu, dan binatang-binatang ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya.
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah
menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan bathin.
....Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi
kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.
Bila ada manusia yang tunduk pada alam maka dia telah
menyalahi fungsi penciptaannya, karena sebagaimana firman Allah di atas,
seharusnya alamlah yang tunduk pada manusia bukan sebaliknya. Manusia yang
tunduk pada alam berarti telah melakukan perbuatan syirik karena tunduk pada
yang selain Allah.
Dengan demikian, ajaran tauhid melarang manusia untuk
tunduk pada alam tapi sebaliknya justru menguasai alam dan memanfaatkannya
untuk kepentingan manusia yang pada gilirannya memaksa manusia untuk menguasai
hukum alam, yang darinya bersumber ilmu pengetahuan dan teknologi.
IV.
KESIMPULAN
Allah SWT menciptakan manusia dengan sempurna dan memberikan kedudukan yang
tinggi daripada makhluk-Nya yang lain adalah oleh Allah diberi berupa akal,
akal bisa membedakan mana yang baik dan mana buruk otomatis dengan ilmu
pengetahuan. Orang yang memiliki ilmu tidak akan menjadi buih yang ada
dilautan, terbawa arus kesana kemari yang tidak mempunyai suatu pendirian yang
kuat, karena tidak memiliki suatu ilmu pengetahuan.
Orang yang berilmu harus didasari dengan tauhid, supaya tidak akan deladrah
orang tersebut.
V.
PENUTUP
Demikian
makalah tentang Integritas Tauhid dan Ilmu Pengeahuan yang bisa kami buat
semoga bermanfaat di dunia dan di akhirat. Apabila ada editan kurang
rapi dan sebagainya kami minta maaf, saran dan kritik dari pembaca kami tunggu
guna penyempurnaan makalah kami ini.
DAFTAR PUSTAKA
Jalal, Abdul Fatah. 1977. Azaz-azaz
Pendidikan Islam. Bandung: CV. Diponegoro
Al Jamali, Muhammad Fadlil. 1993. Konsep
Pendidikan Qur’ani Sebuah Kajian Filosofis. Solo: Ramadhani
Zuhri, Mohammad. 2014. Terjemah Juz ‘Amma.
Jakarta: Pustaka Amani
Zar, Sirajuddin. 2004. Filsafat Islam
Filosof Dan Filsafatnya. Jakarta: PT Raja GrafindoPersada