SHALAT QASHAR DAN DASAR HUKUM MENURUT EMPAT MADZHAB
A.
SHALAT
QASHAR
Qashar secara etimologi bahasa Arab meringkas, ringkasan.
Sedangkan secara terminologi qashar adalah
meringkas sholat, yakni melakukan sholat hanya dua rakaat yang aslinya empat
rakaat. Shalat yang bisa diqashar adalah shalat dzuhur, ashar dan isya’, kalau
shalat maghrib dan shubuh tidak bisa untuk diqashar.
Dasar-dasar seseorang bisa untuk mengqashar shalat, sebagai
berikut:
1.
Al
Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 101
وَاِذَاضَرَبْتُمْ
فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْامِنَ الصلوة.
Artinya: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa
kamu mengqashar”.
Yang dimaksud dengan qashar dalam ayat tersebut adalah meringkas
jumlah bilangan rakaat. Dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Jika karena
kondisi tertentu seseorang melakukan qashar shalat, maka tidak dosa baginya.
2. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra:
فرض الله الصلاة على لسان نبيكم صلى الله عليه وسلم في
الحضر اربعا وفي السفر ركعتين وفي الخوف ركعة
“Allah telah mewajibkan shalat lewat
Rasulullah Saw, Ketika mukim empat rakaat dan ketika dalam perjalanan, dua
rakaat. Dan dalam kondisi ketakutan, cukup satu rakaat”. (HR. Muslim)
3. Diriwayatkan dari Anas bin Malik:
خرجنا مع النبي صلى الله عليه وسلم من المدينة الى مكة فكان
يصلي ركعتين ركعتين حتى رجعنا الى المدينة.
“Kami keluar bersama Rasulullah Saw dari Madinah ke Makkah. Beliau shalat
dua rakaat sampai kita kembali ke Madinah”. (HR. Bukhori dan Abu Dawud)
Secara ijma’, para Ahli Ilmu telah sepakat bahwa
barangsiapa melakukan perjalanan dengan jarak yang diperbolehkan qashar,
maka boleh baginya mengqashar shalat yang empat rakaat dengan dua
rakaat.
Ulama berbeda pendapat tentang apakah shalat qashar
termasuk rukhsah atau azimah?
Ø
Madzhab Pertama
Madzhab ini mengatakan bahwa qashar
shalat tersebut adalah azimah, bukan rukhsah. Makanya disana ada
ketentuan bahwa dalam qashar, semua diringkas menjadi dua rakaatkecuali
maghrib. Ia tetap tiga rakaat. Jika seseorang menambah rakaat dari ketentuan
yang ada, maka ia wajib sujud sahwi. Ini pendapat madzhab Hanafi.
Dalil yang menjadi landasan mereka, apa yang
diriwayatkan Aisyah,
فرضت الصلاة ركعتين ثم هاجر النبي صلى الله عليه وسلم ففرضت
اربعا وتركت صلاة السفر.
“Shalat diwajibkan dengan
dua rakaat. Kemudian Rasulullah Saw berhijrah dan shalat diwajibkan dengan empat
rakaat dan beliau meninggalkan shalat safar”. (HR. Bukhori dan Muslim)
Dari teks hadits diatas, mereka menyimpulkan bahwa qashar
dalam shalat adalah azimah bukan rukhsah. Maka, ketika seseorang hendak mengqashar, ia harus melakukannya
dua rakaat di setiap shalat empat rakaat.
وروي
عن ابن عباس قال: فرض الله الصلاة على لسان نبيكم صلى الله عليه وسلم في الخضر
اربعاوفي السفر ركعتين وفي الخوف ركعة.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra: “Allah Swt telah mewajibkan shalat
atas lisan nabi kamu sekalian, untuk mukim empat rakaat. Dan untuk mereka yang
melakukan perjalanan dua rakaat. Dan saat takut, cukup dengan satu rakaat”. (HR. Muslim)
Dari
riwayat tersebut diatas, mereka menyimpulkan bahwa qashar shalat adalah azimah.
Jadi wajib bagi musafir untuk tidak menyempurnakan shalat dengan empat rakaat.
Jika sempurna, maka ia wajib mengulangnya dengan dua rakaat.
Ø
Madzhab Kedua
Madzhab ini mengatakan bahwa qashar shalat
adalah rukhsah. Ini pendapat madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Tapi, mereka berbeda
pendapat dalam masalah; apakah itu hukumnya sunah muakkadah?
Menurut madzhab Maliki dalam pendapatnya yang
masyhur mengatakan, “Sesungguhnya qashar shalat dalam perjalanan hukumnya sunah
muakkad. Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.
Lebih lanjut, madzhab Syafi’i dan Hanbali
mengatakan, “Qashar shalat adalah rukhsah sebagai pilihan bagi mereka yang
melakukan perjalanan. Jadi, mereka boleh saja menyempurkan atau mengqashar
shalat. Namun, menurut madzhab Hanbali, mengqashar shalat lebih utama daripada
menyempurnakannya. Adapun menurut madzhab Syafi’i dalam pendapatnya yang
masyhur, yang lebuh utama adalah menyempurnakan shalat.
Lebih lanjut mereka mendasarkan pendapatnya tersebut kepada firman
Allah Swt:
فَلَيْسَ
عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْامِنَ الصلوة.
“Tidak ada dosa bagimu, jika memang hendak mengqashar shalat”. (QS. An-Nisa’: 101)
Lafadz “minasshalat” yang dipakai dalam ayat diatas
menunjukkan makna sebagian (littab’idl). Hal itu sekaligus menunjukkan
bahwa seseorang boleh-boleh saja mengqashar shalat. Kemudian “la junaha”
yang berarti tidak ada dosa memberikan makna bahwa seseorang tidak mendapatkan
dosa dengan melakukan qashartersebut menunjukkan qashar shalat adalah rukhsah,
bukan azimah. Kalau memang ada keterangan bahwa seseorang tidak berdosa dengan
melakukan itu, berarti hal itu bersifat alternative, bukan mutlak. Rukhsah
bersifat alternatif. Kalau kalau azimah bersifat mutlak.
Mereka juga melandaskan pendapatnya kepada sabda Rasulullah Saw:
حديث عمر بن
الخطاب حينما قال ليعلى بن امية: عجبت مما عجبت منه, فسألت رسول الله صلى الله
عليه وسلم عن ذلك فقال: صدقة تصدق الله بها عليكم فاقبلوا صدقته.
Dari hadits
Umar bin Khattab Ra diceritakan. Ketika beliau mengatakan sesuatu kepada Ya’la
bin Umayyah, “Saya terkagum-kagum terhadap sesuatu”. Sayapun menanyakannya
kepada Rasulullah Saw. Beliau menjawab, “Shadaqah yang Allah bersedekah
denganya. Maka terimalah shadaqahnya”. (HR. Muslim)
Kata “shadaqah” disini mengandung makna bahwa qashar adalah
rukhsah, bukan azimah. Lebih lanjut, Imam Syafi’I menambahkan bahwa mengqashar
shalat adalah rukhsah yang diberikan Allah Swt kepada mukallaf. Jika mereka
hendak menyempurnakan shalat, maka hukumnya sah-sah saja.