1.
Deskripsi Kitab Tafsir Tarjuman Al Mustafid
Kitab tafsir
Tarjuman al-Mustafid ditulis oleh ‘Abd al-Ra’uf al-Sinkili (1615-1693 M) lengkap 30 juz.
Tarjuman
al-Mustafid karya ‘Abd
al-Ra’uf al-Sinkili ini menurut banyak pengamat, merupakan terjemah dari Tafsir
al-Baydlawi. Ilmuwan yang
berpendapat macam ini adalah Christian Snouck Hurgronje.
Namun, Peter Riddle
mempunyai pendapat lain. Menurutnya, Tarjuman al-Mustafid ini justru
merupakan terjemah Tafsir Jalalayn, meskipun banyak merujuk pula Tafsir
al-Baydlawi, Tafsir Khazin dan beberapa tafsir yang lain. Sebab Tafsir
al-Baydlawi merupakan karya tafsir yang ekstensif dan rumit, sedangkan Tarjuman
al-Mustafid sebagaimana Tafsir Jalalayn, modelnya singkat, jelas dan
elementer.
Abdurrouf
Al-Sinkili meninggalkan pada tahun 1693 M dan ada juga yang berpendapat beliau
meninggal pada tahun 1693 hingga 1695 M. Kemudian beliau dimakamkan di muara
Sungai Aceh atau Kuala Krueng Aceh, Banda Aceh, bersebelahan dengan makam
Tengku Anjung yang dianggap di Aceh. Oleh itu, masyarakat Aceh menggelar beliau
sebagai “Tengku di Kuala” atau “Syiah Kuala”.
2.
Biografi Abdurrouf Al-Sinkili
Nama lengkap
Abdurrauf Al-Sinkili adalah ‘Abd ar-Ra’uf bin ‘Ali al-Jawiyy al-Fansuriyy as-Sinkiliyy,
selanjutnya akan disebut Abdurrauf, ia
adalah seorang melayu dari daerah Fansur, Sinkil, di wilayah Pantai Barat Laut
Aceh.
Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi Rinkes setelah mengadakan kalkulasi
ke belakang dari saat kembalinya dari Timur Tengah ke Aceh, menyimpulkan bahwa
ia dilahirkan sekitar tahun 1615 M.
Mengenai latar
belakang keluarga al-Sinkili, dijelaskan oleh A. Hasjmi, nenek moyang
al-Sinkili berasal dari Persia yang datang ke Kesultanan Samudra Pasai pada
akhir abad ke-13 M. Mereka kemudian menetap di Fansur (Barus), sebuah kota
pelabuhan tua yang penting di pantai Sumatra Barat, dan ayah al-Sinkili adalah
kakak laki-laki dari Hamzah Fansuri.
Latar pendidikannya,
tampaknya Abdurrauf kecil telah belajar agama ditanah kelahirannya, baik dari
ayahnya sendiri maupun dari para ulama setempat lainnya, hingga sekitar tahun
1642, ia mengembara untuk menambah pengetahuan agama ke tanah Arab.
Beliau gunakan sebaik-baiknya belajar ke Tanah Arab, sehingga beliau menguasai
berbagai bidang ilmu seperti Ulum al-Qur’an, hadith, aqidah, fiqih, dll.
Pengiktirafan
terhadap kealiman al-Fansuri dibuktikan dengan pelantikan menjadi mufti
Kerajaan Aceh Darussalam dengan gelaran “Qadi Malik al-Adil” pada tahun 1665 M
yaitu selepas empat tahun beliau kembali daripada Tanah Arab. Beliau menyandang
jabatan ini selama pemerintahan tiga ratu kerajaan Aceh Darussalam, yaitu
Sultanah Sri Ratu Nurul Alam Naqiyatuddin (1675-1678 M), Sultanah Zakiyyatuddin
Inayat Syah (1678-1688 M), dan Sri Ratu Kamalatuddin Syah (1688-1699 M).
Beliau juga
memiliki beberapa karya penanya, diantaranya:
b.
Syarh Latif ‘ala Arba’in Hadithan li Imam al-Nawawi.
c.
Sullam al-Mustafidin.
d.
Risalah Mukhtasarah fi Bayan Syurut al-Saykh wa al-Murid.
3.
Penjelasan Kitab Tafsir Tarjuman Al Mustafid
a.
Sejarah Penulisan Kitab Tafsir Tarjuman Al Mustafid
Sejarah
penulisan kitab Tarjuman Al-Mustafid adalah untuk memenuhi keperluan umat Islam
di negeri ini karena mereka tidak dapat memahami bahasa Arab. Terjemahan yang
ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk tulisan Arab Pegon.
Tentang
asal-usul rujukan dan mengapa kitab ini dinamakan Tarjuman al-Mustafid,
Ismail Lubis memiliki analisis yang menarik. Menurutnya, karya ini sebenarnya
lebih tepat dinamakan tafsir al-Qur’an dalam bahasa Melayu dengan menggunakan
literatur Tafsir Al-Baidawiy dan Tafsir Jalalein. Hal ini
dirasakan semakin tepat bila direnungkan makna dari nama yang diberikan oleh
penulisnya, yaitu Tarjuman Al-Mustafid.
b.
Bentuk Kitab Tafsir Tarjuman Al Mustafid
Ketika menganalisa penafsiran al-Qur’an yang digunakan Abd al-Rauf Singkel
dalam tafsirnya Tarjuman al-Mustafid. Mengenai bentuk penafsiran dapat dinyatakan bahwa tafsir Tarjuman al-Mustafid dapat
digilongkan pada tafsir bi al-Ra’yi, ada dua pendekatan yang digunakan dalam menafsirkan
Tarjuman al-Mustafid. Yang pertama sumber penafsiran yang digunakan adalah
ijtihad, hal ini terlihat ketika ia menafsirkan sural al- Tahrim ayat 11
“Abd Rauf mengatakan bahwa orang yang percaya denga nabi Musa as. Akan disiksa
dengan dilubangi kedua tangannya dan kakinya dan ditindih dengan batuh yang
besar serta dibuang kedalam panas matahari. Maka oaring yang menyiksa tersebut
akan dibalas oleh malaikat.”Yang kedua adalah melalui melalui kutipan dari para
ulama. Hal ini sangat mudah ditemui dalam
Tarjuman al-Mustafid, biasanya ia menggunakan kata “Fadilah, kata mufassir,
kisah dan faedah”. Kata-kata tersebut biasanya menggunakan kurung kerawal
( ), terutama pada “kata mufasir, kisah dan faedah”.
Dengan demikian, penafsiran yang
disertai dengan merujukan kepada al-Qur’an dan hadis serta di dukung dengan
mengkutip pendapat para ulama yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahaannya,
maka tafsir Tarjuman al-Mustafid dapat dikelompokkan kedalam tafsir bi
al-Ra’yi.
Adapun ulama yang sering dikutip
oleh Abd al-Rauf Singkel sebagai sumber penafsiran tafsir Tarjuman al- Mustafid
adalah al-Khazim, al-Baidhawi, al-Baghawi dan kitab Manafi al-Qur’an.
c.
Metode (Manhaj) Kitab Tafsir Tarjuman Al Mustafid
Tafsir Tarjuman
Al Mustafid menggunakan metode ringkas
(ijmali), karena beliau dalam membuat tafsir bertujuan untuk memudahkan orang
yang mempelajari al-Qur’an dan dapat dipahaminya.
Contoh penafsiran dalam QS al-Nas:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ
ٱلنَّاسِ مَلِكِ ٱلنَّاسِ إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ
ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ
فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ مِنَ ٱلْجِنَّةِ
وَٱلنَّاسِ
“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan
(yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia.Sembahan manusia.dari
kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan)
ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia.
Dalam penafsiran surah al-Nas Abd al-Rauf Singkel sebelumnya
mengungkapkan letak turun surah al-Nas di Mekah dan Madinah, menjelaskan jumlah
bilangan ayat, fadilah membacanya.
d.
Corak Kitab Tafsir Tarjuman Al Mustafid
Tafsir Tarjuman
Al-Mustafid menggunakan corak adabul ijtima’i. Contohnya adalah:
Mengenai pengharaman memakan
bagkai, darah, daging babi dan hewan yang disembeli tanpa menyebut nama Allah.
Disamping itu ia menyatakan bahwa orang yang memakan barabg tersebut dalam
keadaan darurat, maka ia masih dalam keadaan Islam dan tidak ada dosa baginya.
Adb al-Rauf Singket menulis pendapatnya tersebut dalam tafsir sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah hanya
mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika
disembeli) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan
terpaksa (memakannya maka ia tidak keluar sari Islam) sedang ia tidak
menginginkannya dan tidak (pula)melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya,
sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.
Hanya yang telah mengharamkan
atas kamu memakan bangkai dan darah dan daging babi dan barang yang disembeli
atas yang lain dari pada nama Allah SWT. Maka barang siapa membawa ia darurat
kepada memakan sesuatu dari pada segalah tersebut itu, maka dimakannya ia pada
halnya tiada keluar atas segalag Islam dan tiada ia memalui had mereka
itu. Maka tiada dosa atas pemakan. Bahwasannya Allah ta’ala yang amat
mengampuni bagi segala awliyahnnya lagi mengasihani ia akan segala orang yang
berbuat taat.
Uraian diatas merupakan solusi
yang ditawarkan Abd al-Rauf Singkel terhadap masyarakat yang ketika itu dalam
keadaan terpaksa memakan barang-barang tersebut, maka tidaklah mereka keluar
dari Islam dan berdosa, asal jangan melampaui batas (had) yang telah
ditentukan.
e.
Sistematik Kitab Tafsir Tarjuman Al Mustafid
Kitab Tafsir
Tarjuman Al Mustafid karya Abdurrouf Al-Sinkili menggunakan sistematik mushafi,
yaitu sistem penafsiran menurut urutan surat di
dalam Al-Qur’an. Beliau memulainya dengan Surat Al Fatihah dan diakhiri dengan
Surat An Nas.
4.
Komentar Para Ulama Mengenai Kitab Tafsir Tarjuman Al Mustafid
Ø Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan
tafsir Tarjuman Al-Mustafid adalah sangat mudah dipahami oleh orang karena
menggunakan bahasa melayu Arab pegon. Ikhtilaf qari dalam bacaan disajikan
dengan mengutip para ulama’ dari ahli qiraat.
Kekurangannya
adalah tafsir yang singkat tidak memberi wawasan yang luas tentang kandungan
al-Qur’an, terdapat kisah israiliyyat didalam tafsir Tarjuman Al-Mustafid.
I.
KESIMPULAN
Kitab Tafsir
Tarjuman Al Mustafid adalah karya ulama tafsir di Indonesia yang pertama di
abad ke 17, tafsir tersebut disusun oleh Abdurrouf Al-Sinkili sekaligus seorang
qadhi di tempat kelahirannya Aceh Darussalam.
Beliau membuat
tafsir ini ingin mempermudah masyarakat untuk mengetahui sekaligus memahami isi
kandungan dalam al-Quran dengan menggunakan bahasa Melayu ditulis dengan Arab Pegon.
II.
PENUTUP
Alhamdulillah makalah kami dapat selesai dengan tepat
waktu, kami menyadari dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan baik
tulisan, editan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kami menunggu kritik dan
sarannya yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Gusmian, Islah. Khazanah Tafsir Indonesia dari Hermeneutika
hingga Ideologi. Yogyakarta: LkiS Printing Cemerlang, 2013
Masrur, Mohammad. Tafsir Al-Qur’an Pertama di Nusantara:
Tarjuman Al-Mustafid Karya Abdur Rouf al-Sinkili. Jurnal Wahana Akademika:
Volume 7, Nomor 1, Pebruari 2005
Yusoff, Zulkifli Mohd, dkk. Tarjuman Al-Mustafid: Satu Analisa
Terhadap Karya Terjemah. Jurnal Pengajian Melayu, Jilid 16, 2005
Http://safitrirois.blogspot.com/2014/11/a_13. htm. Diakses pada 6
Mei 2015 jam 12.32