BIOGRAFI
KH. MUSLIH ABDURROHMAN
PENGASUH
PONDOK PESANTREN FUTUHIYYAH MRANGGEN DEMAK
SEKALIGUS
GURU MURSYID THORIQOH QODIRIYYAH
WA
NAQSYABANDIYYAH
Oleh :
Muchammad Najih
KH. Muslih Abdurrohman lahir di Demak tepatnya di Suburan Mranggen pada
tahun 1980 M. Beliau adalah putra dari KH. Abdurrohman dan Hj. Shofiyah, beliau
anak kedua dari tiga bersaudara yaitu KH. Utsman, KH. Murodi KH. Ahmad Muthohar.
Silsilah beliau dari abahnya yakni KH. Abdurrohman adalah KH.
Muslih bin KH. Abdurrohman bin Qoshidil Haq bin Raden Oyong Abdullah Muhajir/Raden
Dipokusumo bin Prabu Wiryo Kusumo/Prabu Sedo Krapyah bin Prabu Sujatmiko/Wijil
II/Notonegoro II bin Prabu Agung atau Notoprojo bin Prabu Sabrang bin Prabu
Ketib bin Prabu Hadi bin Kanjeng Sunan Kalijaga, hingga Ronggolawe Adipati
Tuban I atau Syaikh Al Jaly/Syaikh Al Khowajy, berasal dari Baghdad keturunan
Sayyidina Abbas Paman Rasulullah.
Silsilah dari Uminya adalah KH. Muslih bin Hj. Shofiyah binti
Shodiroh, hingga bersambung pada Ratu Kalinyamat binti Trenggono (Sultan
Bintoro Demak II) bin Raden Patah (Sultan Bintoro Demak I) bin Kerto Wijoyo
(Darmo Kusumo Brawijaya I Raja Majapahit).
Ratu Kalinyamat adalah istri Sultan Hadliri berasal dari Aceh dan
menjabat sebagai Adipati Bintoro Demak di Jepara. Istri Sultan Trenggono adalah
putri Kanjeng Sunan Kalijaga dan istri Sultan Patah/Ibu Sultan Trenggono adalah
putri Kanjeng Sunan Ampel Surabaya, Dzurriyah Rasulullah SAW.
KH. Muslih Abdurrohman memiliki beberapa istri diantaranya adalah:
Ø KH. Muslih Abdurrohman menikah dengan Nyai Marfu’ah binti KH.
Siroj, dikaruniai beberapa putra-putri:
1.
Al
Inayah, diperistri oleh KH. Makhdum Zein.
2.
KH.
MS. Lutfil Hakim Muslih, Bc. Hk sebagai pengasuh utama II Pondok Pensantren
Futuhiyyah sejak tahun 1971 M.
3.
Faizah,
diperistri oleh KH. Muhammad Ridhwan.
4.
KH.
Muhammad Hanif Muslih, Lc. sebagai pengasuh utama II Pondok Pesantren
Futuhiyyah sejak tahun 1985 M.
5.
Putra-putri
lainnya meninggal sejak kecil.
Ø Sesudah Nyai Marfu’ah wafat pada tahun 1959 M. KH. Muslih
Abdurrohman menikah lagi dengan Nyai Mu’minah (Ibunya KH. Muhibbin Al Hafidz
pengasuh Pondok Pesantren Al Badriyyah Suburan Mranggen Demak). Pernikahannya
tersebut dikaruniani 2 orang anak, yaitu:
1.
Qoni’ah,
diperistri oleh KH. Masyhuri, BA.
2.
Masbahah,
diperistri oleh KH. Badawi.
Ø Setelah Nyai Mu’minah wafat pada tahun 1964 M, KH. Muslih
Andurrohman menikah lagi dengan Nyai Hj. Sa’adah binti H. Mahmud dari Randusari
Semarang. Nyai Hj. Sa’adah binti H. Mahmud sampai sekarang beliau masih hidup.
Pendidikan KH. Muslih Abdurrohman pertama diperoleh dari abahnya
sendiri, setelah belajar dari ayahnya beliau belajar di ponpes Ibrohimiyyah miliknya KH. Ibrohim bin Yahya
sekaligus beliau nyantri di Brumbung Mranggen. Beliau belajar di Ponpes
Mangkang Kulon, beliau juga belajar di Ponpes miliknya KH. Maimoen Zubeir (beliau
masih hidup) dan Syaikh Imam, disini KH. Muslih Abdurrohman sambil belajar atau
santri kalong kepada KH. Maksum Lasem Rembang. Serta beliau belajar di Termas
Pacitan Jawa Timur, juga beliau belajar ilmu Thoriqoh dan Bai’at di Banten yaitu
Syaikh Abdul Latif di Mekkah, beliau
belajar kepada Syaikh Yasin Al Fadany Al Makky di Mekah, beliau belajar ilmu
ekonomi atau dagang dan ilmu kemiliteran. Disamping itu, beliau juga belajar
ilmu kanuragan dan ketabiban islamiy dan aurod (doa khusus) agar mendapatkan
ilmu manfa’at dan barokah.
Ilmu manfa’at adalah ilmu yang dapat diamalkan sendiri yang telah
didapatkan setelah belajar, sedangkan ilmu yang barokah adalah ilmu yang dapat
ditularkan kepada orang lain dengan cara memberi didikan, pengajaran dan
nasehat, baik secara langsung ataupun secara kitab-kitab beliau yang ditulis.
KH. Muslih Abdurrohman juga belajar mengenai ilmu bagaimana cara
mengajar yang baik dengan orang dan bagaimana menyelenggarakan pendidikan serta
pengajaran sistem klasikal (madrasah) ketika beliau mondok di Termas Pacitan
Jawa Timur.
Sebelum KH. Muslih Abdurrohman mondok di Termas, beliau diperintah
kepada orang tuanya yakni KH. Abdurrohman untuk belajar dagang pakaian di pasar
Mranggen dengan kakaknya KH. Utsman Abdurrohman selama satu tahun, abahnya
memerintah beliau belajar dagang bersama kakaknya untuk merasakan bagaimana
susahnya mencari uang. Tapi KH. Muslih Abdurrohman menjalani dengan rasa ikhlas
dan beliau dagang pakaian sangat ramah tamah, jujur kepada pembelinya. Akhirnya
sangat banyak pembelinya, karena pelayanan beliau kepada pembelinya sangat
baik, bahkan sebelum beliau buka toko dagangannya para pembeli sudah pada yang
nunggunya.
KH. Muslih Abdurrohman akhirnya mondok di Termas, ketika datang di
pondok Termas KH. Muslih Abdurrohman langsung dimintai oleh KH. Ali Maksum
(Krapyak Jogja) untuk mengajar kelas Alfiyyah Ibnu Malik yang diajar oleh KH.
Ali Maksum. Semula KH. Muslih Abdurrohman menolaknya, dengan alasan belum mampu
mengajar hal tersebut. Beliau tetap dipaksa dan dibujuk akan mengajarinya, tapi
KH. Ali Maksum hanya mengajari sekali yaitu pada malam sebelum esok harinya
mengajar, lalu menghilang.
Beliau KH. Muslih Abdurrohman menjalani dengan rasa berat hati.
Sekitar setengah bulan KH. Ali Maksum baru muncul dan bertanya kepada murid
kelas tersebut. Bagaimana diajar oleh ustadz baru? Murid-murid menjawab, enak
dan puas. Akhirnya KH. Muslih Abdurrohman ditetapkan sebagai guru kelas
tersebut. KH. Muslih Abdurrohman selalu melakukan inovasi untuk menjadi guru
yang terbaik bagi murid-murid yang diajarnya.
Dari hasil pendidikannya beliau KH. Muslih Abdurrohman termasuk
ulama Allamah ahli dalam beberapa ilmu diantaranya ilmu tata bahasa arab
(nahwu, shorof, balaghoh hingga manthiq dan arud), ilmu kalam (tauhid), ilmu
dzari’ah, tafsir, hadits, ushul fiqih dan fiqih, ilmu tasawuf, ilmu thoriqoh
mu’tabaroh. Beliau juga ahli dalam ilmu kepemimpinan, ilmu kemiliteran, ilmu
kependidikan, ilmu siyasah, ilmu hikmah dan ilmu jihad.
Oleh sebab itu KH. Muslih Abdurrohman pantas menjadi Guru Mursyid
Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah bahkan menjadi Syaikhul Mursyidin (Guru
Para Mursyid), karena beliau telah memenuhi persyaratan sebagai Guru Mursyid
sebagaimana yang dianjurkan Syaikh Abdul Qodir Al Jilany RA, menjadi guru
mursyid harus memiliki tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
1.
Memiliki
ilmu Ulama (ahli dalam agama)
2.
Memiliki
ilmu siyasah (ahli dalam politik)
3.
Memiliki
ilmu hikmah (kebijaksanaan ahli hukum islam).
Dengan berkat
ilmunya yang pernah beliau menimba diberbagai pondok pesantren, pada tahun 1935
M beliau pulang dari pondok pesantren Termas menuju ke Suburan Mranggen Demak,
tempat kelahirannya dan tekad akan mengembangkan pondok pesantren abahnya yakni
Futuhiyyah. Pada tahun 1936 M KH. Muslih Abdurrohman mendirikan Madrasah
Ibtidaiyyah yang setingkat wustho dan Madrasah Tsanawiyah yang diselenggrakan
pada pagi hari.
Zaman dulu
belum ada radio, belum ada internet dan lain sebagainya untuk mempublikasikan
pondok pesantren Futuhiyyah, tapi madrasah tersebut banyak dengan murid dan
pondoknya semakin banyak jenis santri mukimannya, baik dari desa Mranggen dan
sekitarnya hingga sampai Gubug Purwodadi, tersiar ada kyai yang alim allamah di
wilayah Suburan Mranggen.
Sesudah tahun
1950 M pondok pesantren Futuhiyyah semakin bertambah antara 300-400 orang,
berikut datangnya santri pengajian Thoriqoh yang dibuka pada tahun 1950 M,
penyebabnya macam-macam, ada yang mengatakan KH. Muslih Abdurrohman ngajinya
enak atau karena adanya aktivitas da’wah dari para muballighin, termasuk KH.
Abdul Hadi yang malang melintang berda’wah seantero Jawa Tengah.
KH. Muslih
Abdurrohman selaku pimpinan atau pengasuh pondok pesantren Futuhiyyah berjuang
sekuat tenaganya untuk mencukupi sarana dan prasarananya yang dibutuhkan
seiring dengan perkembangan ponpes beliau yang sangat maju pesat sekali. Selain
dari harta pribadi beliau juga dari para wali santrinya maupun dari masyarakat
sekitar.
Sekarang pondok
pesantren Futuhiyyah sudah berkembang menjadi Yayasan Pondok Pesantren dan
telah dikenal di Nasional bahkan internasional yayasan pondok pesantren
Futuhiyyah, pejuangan beliau dilanjutkan oleh putra beliau, adalah KH. MS.
Luthfil Hakim Muslih, Bc. Hk (sekarang sudah wafat) dan KH. Muhammad Hanif
Muslih, Lc dan didampingi oleh seluruh keluarga besar bani Abdurrohman. Para
pengasuh inilah yang bahu membahu berjuang untuk memberikan pelayanan yang
terbaik bagi santri dan masyarakat.
KH. Muslih
Abdurrohman menurut suatu riwayat baik dari keluarga dan santri alumninya,
beliau wafat ketika menjalankan Ibadah Haji di Mekah Al Mukarromah dan Madinah
Al Munawaroh. Para mentakziyah pada waktu itu sangat banyak sekali, para
alumninya dan sebagainya pada datang melawatnya, karena telah kehilangan orang
yang alim allamah sekaligus guru mursyid thoriqoh qodiriyah wa naqsyabandiyyah.